Selasa, 13 April 2010

Tipe-Tipe Penelitian Kualitatif
Tipe-tipe penelitian sebenarnya cukup sulit dan dapat memunculkan perdebatan, karena buku yang satu dengan yang lain memberikan penggolongan yang berbeda-beda mengenai tipe penelitian. Misalnya, Palys(1992) menggolongkan tipe-tipe penelitian dalam:
1) Metode-metode kontak langsung (wawancara, diskusi, dan penggunaan alat proyeksi)
2) Metode-metode observasi
3) Metode unobtrusive dan arsip (studi hasil karya, catatan harian, dan bentuk-bentuk peninggalan lain).
Ada pula penulis yang mengartikan tipe penelitian sebagai ’desain’. Punch (1998), menggolongkan tipe penelitian dalam desain penelitian kualitati, studi kasus, etnografi, dan grunded theory. Sementara Denzin danm Linclon (1994), memahami tipe-tipe penelitian dari sifat atau pendekatan penelitian dengan membagi tipe-tipe penelitian dalam antara lain: studi kasus, etnografi dan observasi partisipatif, fenomenologi, etnometodologi, praktek-praktek interpretif, metode biografi, dan penelitian klinis.
Beberapa buku lain menggolongkan ’tipe-tipe’ penelitian dari tujuan khususnya. Yaitu, metode-metode yang ada dapat dipakai dalam tipe-tipe penelitian yang berbeda. Yang dipentingkan adalah bahwa metode-metode yang dipilih akan membantu tercapainya tujuan khusus dari penelitian.
Sifat penelitian kualitatif terbuka, luwes, tipe dan metode pengumpulan datanya sangat beragam, disesuaikan dengan masalah, tujuan penelitian, serta sifat objek yang diteliti. Tipe, antara lain:
a.) Studi Kasus
Kasus adalah fenomena khusus yang hadir dalam suatu konteks yang terbatasi (bounded context), meski batas-batas fenomena dan konteks tidak sepenuhnya jelas. Kasus itu dapat berupa individu, peran, kelompok kecil, organisasi, komunitas, atau bahkan suatu bangsa. Atau berupa keputusan, kebijakan, proses, atau suatu peristiwa khusus tertentu.


Studi kasus dapat dibedakan dalam beberapa tipe:
• Studi kasus intrinsik: penelitian dilakukan karena ketertarikan atau kepedulian pada suatu kasus khusus.
• Studi kasus instrumental: penelitian pada suatu kasus unik tertentu, dilakukan untuk memahami isu dengan lebih baik, juga untuk mengembangkan, memperhalus teori.
• Studi kasus kolektif: suatu studi kasus instrumental yang diperluas sehingga mencakup beberapa kasus. Tujuannya adalah untuk mempelajari fenomena/populasi/kondisi umum dengan lebih mendalam.
b.) Etnografi
Etnografi adalah deskripsi tentang kelompok manusia, berkembang dari penelitian antropologi mengenai kelompok masyarakat ’primitif’/eksotis. Etnografi adalah peran sentral budaya dalam memahami cara hidup kelompok yang diteliti. Budaya dalam hal ini dapat diartikan sebagai keseluruhan tingkah laku sosial yang dipelajari anggota kelompok.
Penelitian etnografis dapat dibedakan dari karakteristik:
 Deskriptif, penelitian inilah yang sering disebut sebagai penelitian Etnografi.
 Kritikal, penelitian jenis ini sering disebut sebagai etnografis kritis. Yang diteliti adalah praktek-praktek sosial dalam kaitannya dengan sistem dan budaya makro.
Metode pengumpulan data dalam penelitian etnografis:
 Kegiatan lapangan: pengumpulan data di lapangan melalui berbagai metode, menggabungkan observasi, partisipasi dan wawancara, dengan peneliti tinggal di lapangan.
 Penelitian etno-historis: pengumpulan data lebih mendasarkan diri pada studi dokumen (surat, kisah hidup, catatan harian, dll).
 Pada umumnya memerlukan waktu lama karena interpretasi budaya hadir dalam tingkatan-tingkatan yang berbeda, yang memerlukan waktu lama dan penelaahan mendalam dan terkadang repetitif, untuk memastiakn bahwa respon yang tampil memang merefleksikan budaya masyarakat yang diteliti.
c.) Pendekatan Partisipatoris
Pendekatan Partisipatoris yang murni adalah PRA (Participatory Rural Appraisal). Disebut demikian karena penelitian ini mulanya berkembang untuk mengkaji masyarakat pendesaan. Dalam perkembangannya, desa dapat diartikan secara lau, yakni komuniats atau masyarakat. Penelitian partisipatoris merupakan trend masa kini. Maka dari itu banyak pihak menyatakan menggunakan metode RPA, tetapi penelitian yang dilakukan sesungguhnya tidak benar-benar partisipatoris. Akibatnya, tujuan asli dari RPA, adalah memberdayakan dan berkelanjutan menjadi tidak tercapai.
d.) Metode Unobtrusive/tidak Reaktif
Bila diartikan secara harfiah, istilah unobtrusive dapat diartikan sebagai ”tidak menonjolkan diri”, rendah hati”. Arti sebenarnya adalah bahwa metode ini bersifat non-reaktif, dalam arti, tidak mengundang reaksi khusus dari pihak yang diteliti.
Penelitian Unobtrusive, yang dimaksudkan adalah peneliti tidak bertanya, atau melakukan sesuatu untuk mendapatkan respon dari individu atau kelompok yang ditelitinya. Penelitian dilakukan dengan menyandarkan diri pada data unobtrusive, yakni:
 Jejak-jejak fisik
Jejak-jejak fisik dapat dibedakan dari: Erosi, ada suatu tanda penghilangan yang menunjukkan gambaran perilaku tertentu. Akresi, adanya akumulasi bukti-bukti fisik mengindikasikan perilaku tertentu.
 Arsip/Dokumen (Plays, 1992; Punch, 1998).
Arsip dibedakan menjadi 2: a. Arsip resmi, atau arsip yang disusun oleh lembaga publik
b. Arsip-arsip pribad

RAGAM METODE PENGUMPULAN DATA
 Observasi, penelitian pada diary/catatan harian
 Wawancara
 Focus Grouping Discussion/diskusi kelompok terfokus
 Penelitian Partisipatoris/aksi, RRa dan PRA
 Metode-metode yang berkait dengan gambar, cerita dengan lubang-lubang yang perlu diisi, penggunaan foto.
 Metode-metode dengan pemetaan dan ranking-peta mobilitas, kalender muslim, anggaran waktu.
 Metode-metode dengan drama dan bercerita – bermain peran
 Oral history dan metode-metode kisah kehidupan


METODE PENGUMPULAN DATA
Tipe Pilihan & Kemungkinan Kelebihan Keterbatasan
OBSERVASI Partisipan murni Data langsung-tanpa perantara/seleksi Hal penting mungkin diperoleh tetapi tidak dapat dilaporkan
Pengamat sebagai partisipan Peneliti dapat mencatat begitu informasi muncul; hal penting dapat teramati Peneliti tidak diterima seutuhnya dianggap pengganggu
Pengamat murni Bermanfaat untuk mengeksplorasi topik-topik Keterbatasan dalam mengupayakan rapport
WAWANCARA Mendalam Mengungkap data mendalam dan personal/sensitif Informasi terseleksi oleh informan/subjek
Terfokus Mencakupi pokok-pokok penting sesuai kebutuhan Pokok/pertanyaan peneliti mungkin tidak merefleksikan realitas subjek
Kelompok FGD Memperoleh gambaran umum peneliti memiliki pengendalian Kehadiran peneliti mungkin menyebabkan jawaban bias-tidak semua subjek sama verbal
DOKUMEN Dokumen publik/resmi Tidak reaktif, data yang sesungguhnya Informasi tidak lengkap, informasi yang penting mungkin tidak tercatat/tiadk dapat diakses materi mungkin tidak otentik atau tidak benar
Dukomen pribadi (surat, buku harian) Tidak reaktif, data yang sesungguhnya. Mengungkap kekhususan bahasa dan kata-kata subjek
MATERI AUDIO VISUAL Buku, foto, video, berbagai bentuk karya seni, program komputer, film,dll Tidak reaktif, secara tidak langsung mempresentasikan realitas mengembangkan kreativitas menginterpretasi Mungkin sulit di interpretasi, mungkin sulit diakses secara lengkap
BENTUK-BENTUK PARTISIP-ATORIS Berbagai permainan, diskusi, kerja kelompok, refleksi, drama, dll Mudah, tidak seperti penelitian, memberdayakan Untuk tujuan praktis bukan konseptual


OBSERVASI
Istilah observasi diturunkan dari bahasa Latin yang berarti “melihat” dan “memperhatikan”. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut.
Patton menegaskan observasi merupakan metode pengumpulan data esensial dalam penelitian, apalagi penelitian dengan pendekatan kualitatif. Banister dkk. (1994) yang secara umum sependapat dengan uraian Patton di atas menambahkan beberapa variasi pendekatan yang perlu dipertimbangkan lebih lanjut:
 Struktur Observasi, dapat bervariasi dari yang terstruktur dan mendetail sampai pada obsevariasi tidak terstruktur.
 Fokus Observasi, mulai dari dikonsentrasikan secara sempit pada aspek-aspek tertentu saja atau diarahkan secara luas pada aspek yang dianggap relevan.
 Metode dan sarana/instrumen yang digunakan, mulai dari tulisan tangan, penggunaan komputer, dipakainya lembar pengecek, stopwatch, atau alat-alat yang lebih canggih seperti perekam suara dan gambar.
 Pemberian umpan balik, diberikan kepada siapa, dan sejauh mana informasi akan disampaikan serta mengapa.

WAWANCARA
Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu.
Variasi dalam wawancara kualitatif
 Wawancara informal: proses wawancara didasarkan sepenuhnya pada berkembangnya pertanyaan-pertanyaan secara spontan dalam interaksi alamiah.
 Wawancara dengan pedoman khusus: dalam proses wawancara ini, peneliti dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, yang mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tanpa bentuk pertanyaan eksplisit.
 Wawancara dengan pedoman standart yang terbuka: dalam bentuk wawancara ini, pedoman wawancara ditulis secara rinci, lengkap dengan set pertanyaan dan penjabarannya dalam kalimat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar